“Suka atau Tidak Suka, Masalah adalah perintah untuk segera bekerja dan berusaha menuju keadaan yang kita sukai “ (Mario Teguh)
Masalah demi masalah kerap kali muncul pada kehidupan kita sebagai umat manusia. Masalah akan timbul secara terus – menerus atau bahkan bertahap. Lalu bagaimana cara kita menyelesaikan masalah yang terus menimpa kita? Usaha pasti kita terus lakukan agar semua masalah yang kita hadapi cepat selesai agar tidak menjadi hambatan dalam perjalan hidup kita.
Banyak cara manusia dalam menyelesaikan masalanya. Pada dasarnya ada dua tipe orang dalam menghadapi masalah atau problem, baik di pekerjaan maupun kehidupan sosial. Dua tipe ini adalah reactive (bereaksi begitu masalah datang) dan receptive (mau menerima masalah).
1. Pendekatan Reactive
Mereka yang reactive biasanya melihat suatu masalah sebagai ancaman. Entah ancaman terhadap karirnya, bisnisnya, keluarganya, dan sebagainya. Dalam kelompok ini Anda mencari solusi terhadap masalah dengan menggunakan pendekatan logis dan tradisional. Ciri-cirinya:
· Begitu masalah datang Anda cenderung segera mencari cara apapun untuk mengatasinya.
· Masalah dilihat sebagai faktor penghambat perkembangan diri.
· Anda akan segera menyusun strategi untuk menghadapi masalah
· Karena masalah dilihat sebagai ancaman, dia akan mendominasi pikiran dan cenderung menyebabkan kecemasan dan stress.
2. Pendekatan Receptive
Pendekatan ini biasanya dipraktekkan oleh mereka yang sudah menyadari bahwa masalah bukanlah ancaman tetapi justru konsekuensi yang timbul dari suatu kondisi yang kita ciptakan. Oleh karena itu kita mempunyai kekuatan untuk mengubah kondisi tersebut dari dalam diri sendiri. Anda mau menerima masalah dan pada saat yang sama membuat solusinya.Ciri-cirinya:
Ketika masalah datang, Anda mengenalinya dan menggunakan pendekatan:
· Masalah merupakan kebalikan dari solusi. Ketika masalah muncul, Anda percaya saat itu juga bahwa solusinya sudah ada.
· Anda fokus kepada solusi dari persoalan yang timbul, bukan pada penyebab dari masalah itu. Dengan demikian Anda mengambil alih kontrol dari dalam diri Anda sendiri, bukannya dikendalikan oleh keadaan di luar.
· Masalah merupakan kesempatan untuk pengembangan diri. Anda melihatnya sebagai peluang untuk meciptakan realitas positif dalam hidup Anda.
Mau menerima masalah bukan berarti berdiam diri. Anda tidak ”kebakaran jenggot” tetapi mengenali masalah itu dengan tenang dan membuat diri Anda responsif terhadap semua yang Anda perlukan untuk mengundang solusi.
Contoh yang paling sederhana adalah ketika pasangan yang Anda cintai (misalnya istri, suami, atau pacar) sedang ngambek karena masalah sepele. Dengan pendekatan reactive, Anda hanya akan memperburuk keadaan dengan bertanya-tanya kenapa dia harus ngambek, menganalisa penyebabnya dan merasa kondisi ini akan mengancam keharmonisan hubungan Anda dengannya. Bukannya solusi yang didapat tetapi justru kecemasan dan kekhawatiran.
Dengan pendekatan receptive, Anda menerima dan menyadari bahwa pasangan Anda sedang marah. Anda fokuskan energi Anda untuk menciptakan kasih sayang yang pada dasarnya merupakan lawan dari kemarahan. Anda tidak larut terbawa suasana – mencoba mencari jawaban dari analisa kenapa dia jadi marah – tetapi mengambil alih kendali dari dalam diri sendiri, tetap berpikir tenang, dan menunjukan sikap positif dalam perilaku Anda. Anda akan rasakan bahwa berada dalam situasi ini justru membuat diri Anda berkembang. Anda membuat kualitas positif dari diri Anda muncul ke permukaan dan sudah menjadi hukum alam dengan bersikap seperti ini pasangan Anda niscaya akan berubah dari marah menjadi cinta.
Pendekatan receptive ini bisa Anda praktekkan di kehidupan bisnis, rumah tangga, dan sosial. Intinya Anda membangun keyakinan bahwa masalah tidaklah nyata sehingga Anda tidak merasa terbebani. Latih diri Anda untuk tidak reaktif ketika suatu masalah muncul. Fokuskan diri Anda pada lawan dari masalah, yaitu solusi, untuk menemukan kendali dan bukannya larut dalam masalah itu.
Maka dari itu, "kita harus menjadi orang yang solutif". Orang solutif adalah orang yang mempunyai solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kalaupun masalah itu datang lagi, orang yang solutif mampu memecahkan masalah itu supaya tidak terulang lagi.
Solusi harus dipecahkan jangan dipendam dan dibiarkan saja. Bisa membuat kita gila dan sakit. Solusi yang datang dianggap sebuah keajaiban, bahwa dengan adanya solusi pasti ada jalan keluar. Dengan jalan keluar itulah, kita dapat menganggap diri kita seorang yang hebat mampu memecahkan sebuah "monster" atau mendaki "gunung" yang tinggi.
Jika semua masalah telah diselesaikan dengan baik, maka berilah dirimu sendiri kesenangan lahir dan batin dengan cara mencari kesenangan dan hiburan yang tentunya mengarah kearah yang positif.. tetapi jangan sampai membuat kita larut dan melupaka semua hal yang pernah terjadi. Jika itu terjadi maka dipastikan kamu akan susah untuk bangun kembali. Karena saya sedang merasakannya…hehehe TETAP SEMANGATTTTTTTTTT
Sumber : http://www.pengembangandiri.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar