Selasa, 05 Januari 2010

Mereka sebut ROY SURYO sebagai Pakar Telematika

Roy Suryo lahir di Yogjakarta, 18 Juli 1968. Saat ini beliau juga seorang pengurus Partai Demokrat bidang Komunikasi dan Informatika. Roy sering menjadi narasumber di berbagai media massa Indonesia untuk bidang teknologi informasi, fotografi dan multimedia.
Menurut Roy suryo, awal kecintaannya terhadap teknologi bermula dari kegemaran menyukai elektronika sejak duduk di bangku sekolah tingkat pertama (SMP). Perjalanan hidup Roy tak semulus jalan tol. Dia harus bisa bertahan dalam badai gunjingan dan kritikan pedas dari sebagian orang yang tidak menyukai bidang yang ditekuninya.
Ia juga pernah tercatat sebagai pengajar tamu di Program D-3 Komunikasi UGM, mengajar fotografi untuk beberapa semester namun tidak berstatus sebagai dosen tetap UGM. Roy sebut saja begitu, memang sering membantu pengungkapan kasus-kasus yang berkaitan dengan teknologi.
Seperti meneliti keabsahan rekaman suara presiden pada waktu itu, foto, sekarang membuat website untuk Pak SBY, terjun ke berbagai bidang yang kadang-kadang ada faktor resikonya juga.
Roy Suryo sering meraih penghargaan dari lomba fotografi tingkat nasional serta penghargaan dari berbagai pihak, di antaranya dari Kadin bidang Telematika, Menteri Perhubungan Agum Gumelar, Majalah Trend Digital, Telkomsel, dan Garuda Indonesia.
Selain di bidang Telematika, ia juga ikut dalam kepengurusan Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia, Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia, juga tercatat sebagai salah satu konsultan teknis di situs resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Terakhir Ia tercatat sebagai ketua departemen komunikasi dan informasi di Partai Demokrat dan penanggung jawab redaksi di situs resmi Partai Demokrat.
Beliau juga pernah menjadi pembawa acara e-Lifestyle di Metro TV selama lima tahun. Oleh media massa Indonesia ia sering dijuluki sebagai pakar informatika, multimedia, dan telematika.
Banyak pihak yang meragukan julukan pakar yang dimilikinya. Bahkan beberapa media sering mengutip pernyataannya tanpa memeriksa ulang kebenarannya secara akademis. Sehingga beberapa pihak berinisiatif untuk membuat situs roysuryowatch yang berisi kritik dan analisa atas komentar-komentarnya di media massa, blog Pesan Cinta Blogger Indonesia, dan Blogger dan hacker.
Keraguan ini semakin bertambah sejak dikeluarkannya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, dikarenakan berbagai komentar Roy Suryo yang menuduh bahwa defacing situs-situs pemerintah dilakukan oleh para blogger dan hacker , menunjukkan bahwa ia bahkan tidak mengerti bahwa blogger hanyalah istilah yang dipakai untuk orang-orang yang menulis catatan harian di internet dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan defacing atau tindak pembobolan website lain. Perseteruan Roy Suryo dengan para blogger meruncing setelah dia mengatakan bahwa blogger adalah tukang tipu.
Sebagai contoh, Media mencatat bahwa pada 4 Agustus 2007 Roy Suryo mengklaim menemukan lagu Indonesia Raya yang lebih lengkap daripada yang selama ini digunakan melalui kerjasama penelitian dengan Tim AirPutih. Pada 6 Agustus 2007, ditambahkan pernyataan bahwa ia meneliti sekaligus tiga versi lagu Indonesia Raya.
Namun kemudian diklarifikasi bahwa temuan tersebut bukanlah lagu Indonesia Raya asli. Lagu sebenarnya direkam oleh Perusahaan Piringan Hitam Populer, Pasarbaru milik Yo Kim Chan yang belum ditemukan hingga sekarang. Pada 6 Agustus 2007, Tim AirPutih juga membantah Roy Suryo sebagai pihak yang pertama meneliti dan menemukan lagu tersebut. Roy Suryo juga tidak diakui sebagai pihak yang bekerjasama dengan tim ini dalam meneliti hal tersebut.
Roy Suryo menganggap bahwa penolakan tersebut tidak berasal dari sumber yang bisa dipercaya. Namun pada tanggal 7 Agustus 2007, salah seorang anggota Tim AirPutih mengklarifikasi secara tertulis kepada media bahwa mereka memang bekerjasama dengan Roy Suryo untuk berhubungan dengan pemerintah.
Sebuah stasiun televisi lokal Surabaya, JTV, diberitakan telah menayangkan video lagu kebangsaan Indonesia Raya tersebut sebagai bagian dari isi program dokumenter selama 3 tahun sejak 2004. Video tersebut juga telah berada di YouTube sejak Desember 2006, jauh sebelum kontroversi yang timbul akibat klaim penemuan oleh Roy Suryo muncul di media massa.
Pada tanggal 25 September 2008 untuk pertama kalinya kepakaran Roy Suryo dipertanyakan di depan lembaga hukum. Situs berita detik memberitakan bahwa Assegaf, pengacara Habieb Rizieq, keberatan jika Roy Suryo sebagai saksi ahli telematika dalam kasus tragedi Monas.
Assegaf menegaskan bahwa latar belakang pendidikan Roy Suryo dari fakultas ilmu sosial dan politik tidak ada kaitannya dengan telematika. Ditambah pula pihaknya belum pernah menemukan tesis ilmiah Roy Suryo di bidang Telematika. Habib Rizieq pun menuduh Roy Suryo sebagai plagiator pada kasus klaim penemuan Lagu Indonesia Raya 3 Stanza, sehingga kapasitas kepakarannya sangat diragukan.
Inilah fenomena menyedihkan dari bangsa ini. rakyat kita terlalu banyak yang gaptek di jaman yang sudah modern seperti ini. Sehingga istilah biasa menjadi luar biasa. Terlebih lagi pernyataan roy seringkali di sokong atau di besar-besarkan beberapamedia. Akhirnya lewat media pun Nama Roy suryo di perkenalkan sebagai seorang pakar telematika yang seharusnya tidak pantas untuk di sematkan buat si “pakar” telematika itu.
Pertanyaannya kini , Apakah beberapa media Kita memang terlalu Gaptek untuk memberikan Si Roy suryo gelar sebagai pakar Telematika? Atau mungkin Roy suryo memang “jeli” membuat opini terhadap rakyatindonesia yang hanya sekian persen saja mengenal internet beserta istilaah-istilah nya yang keren itu? termasuk kepada anda pakar-pakar yang tak mau unjuk gigi sehingga gelar yang harusnya anda semat berada pada pundak seorang Roy suryo si “Pakar” telematika itu. Siapa yang pintar? siapa yang “kecolongan” dalam hal ini?. saya juga bingung
Yang pasti kontroversi Roy suryo tak akan berhenti sampai terjadinya kasus Situs Golkar di brendel heacker kemaren. masih akan ada statment-statment Roy suryo yang bakal menghiasi media kita selanjutnya. karena sepertinya media kita bingung mencari sumber yang pas untuk kasus yang masih berhubungan dengan internet.
Ini mungkin juga kesalahan pakar-pakar telematika kita. para pakar-pakar yang memang benar-benar pakar dalam dunia maya di negri kita lebih banyak sembunyi, dan gak mau muncul kepermukaan, sehingga celah kosong yang prosfeknya bagus untuk populer itu pun di manfaatkan Roy suryo yang jelas-jelas kita anggap belum pantas di sebut pakar. jika sudah seperti ini Siapakah yang pantas disalahkan? Roy Suryo? Media Kita? Atau anda-para pakar telematika itu?
Dan Jika ditanya Siapakah yang paling pas menyandang gelar pakar telematika untuk saat ini? jawabannya mungkin akan susah di tebak, jikapun diadakan polling hasilnya akan sama dengan voting calon gubernur BI kemaren yang lebih banyak tidak setuju dengan yang di ajukan tanpa menjelaskan dengan jelas apa alasan penolakan dari kedua calon itu.
Ternyata pakar-pakar telematika kita memang memiliki falsafah padi. semakin berisi semakin merunduk, semakin pintar semakin bersembunyi. Tak ingin sombong, karena merasa diatas langit masih ada langit. jika memang seperti inikita pun harus rela jika Roy Suryo yang sebenarnya bukan pakar itu menjadi “pakar”. sampai kapan? sampai nanti seluruh rakyat indonesia mengenal apa itu Kontrol A, Kontrol C dan Kontrol V
Siapkah anda Maju menjadi pakar Telematika? Paling tidak Anda lebih layak di banding Roy Suryo.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Roy_Suryo
http://www.baladika.info/2008/03/30/roy-suryo-media-dan-pakar-telematika/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar